Oleh : Prof. Dr. KH. Zainal Abidin, M.Ag (Ketua FKUB Provinsi Sulawesi Tengah)
Palu, HALOSulteng – Setiap tahun, umat Islam di seluruh penjuru dunia merayakan Hari Raya Idul Adha dengan ritual yang sangat ikonik: menyembelih hewan qurban. Secara syariat, ibadah ini adalah bentuk napak tilas atas keteguhan iman Nabi Ibrahim dan keikhlasan Nabi Ismail memenuhi perintah Sang Khalik. Namun, jika kita menyelami lebih jauh dari sekadar tumpahan darah hewan sembelihan dan ritual pembagian daging, qurban menyimpan dimensi sosial-psikologis yang sangat relevan bagi kehidupan berbangsa, khususnya dalam merawat dan meningkatkan kualitas kerukunan umat beragama.
Di tengah realitas sosial hari ini, tantangan terbesar dalam menjaga kerukunan bukanlah perbedaan keyakinan, melainkan munculnya sikap intoleransi yang dipicu oleh egoisme teologis dan sosial. Di sinilah qurban hadir bukan sekadar sebagai ritual, melainkan menjelma menjadi sebuah manifesto kesalehan sosial yang sangat kontekstual.
Secara simbolis, hewan yang dikurbankan adalah jenis hewan ternak seperti sapi, kambing, atau unta. Mengapa hewan? Ini adalah isyarat bahwa ada sifat-sifat kebinatangan di dalam diri setiap manusia yang harus disembelih dan dikendalikan.
Sifat kebinatangan itu mewujud dalam bentuk keserakahan, hukum rimba (yang kuat menindas yang lemah), ketidakpedulian terhadap sekitar, hingga ego yang liar. Dalam konteks interaksi antarumat beragama, sifat kebinatangan ini sering kali menjelma menjadi sikap mengklaim kebenaran yang agresif, sebuah kondisi di mana seseorang merasa dirinya paling benar secara mutlak, sementara orang lain yang berbeda jalan dianggap salah, sesat, dan layak dikucilkan.
Ketika sebilah pisau tajam memutus urat nadi hewan qurban, pada hakikatnya seorang hamba sedang membuat komitmen untuk memenggal ego merasa benar sendiri pada dirinya. Kita diajak untuk menundukkan kesombongan diri kita. Merasa benar dalam meyakini iman pribadi adalah keharusan, namun merasa berhak menghakimi kesalehan orang lain yang berbeda keyakinan adalah awal dari keretakan sosial. Mengorbankan ego merasa benar sendiri ini adalah langkah pertama yang paling krusial untuk membuka ruang dialog yang sehat dan setara antarpemeluk agama.
Kerukunan umat beragama sering kali rapuh bukan karena doktrin kitab suci, melainkan karena prasangka dan kedengkian yang dipelihara di dalam kepala. Perbedaan latar belakang budaya dan keyakinan sering kali melahirkan kecurigaan.
Ibadah qurban menuntut sebuah pengorbanan yang lebih besar dari sekadar materi: yakni mengorbankan prasangka buruk dan kedengkian demi terwujudnya kehidupan yang rukun, damai, dan harmonis. Kedengkian adalah penyakit hati yang menggerogoti rasa persaudaraan kemanusiaan. Ketika kita rela “menyembelih” prasangka buruk terhadap kelompok lain, kita sedang membersihkan diri kita dari keburukan.
Esensi qurban mengajarkan bahwa untuk membangun jembatan harmoni, harus ada sesuatu yang dikorbankan. Kita harus rela mengorbankan sikap suka menyalahkan orang lain. Kita harus mengorbankan kepuasan semu dari mencaci-maki perbedaan di media sosial. Tanpa adanya kerelaan untuk mengorbankan hal-hal negatif tersebut, kedamaian sejati hanya akan menjadi slogan, tanpa pernah membumi dalam realitas keseharian.
Menariknya, dalam aspek sosial pembagian daging qurban, Islam memberikan kelonggaran kemanusiaan yang luar biasa. Mayoritas ulama menyepakati bahwa daging qurban boleh dibagikan kepada sesama manusia tanpa melihat latar belakang agamanya, khususnya bagi mereka yang membutuhkan. Ini adalah pesan teologis yang sangat kuat: bahwa di hadapan rasa lapar dan kemiskinan, sekat-sekat dogmatis harus melebur dalam rasa kemanusiaan yang universal.
Saat seorang Muslim mengetuk pintu tetangganya yang non-Muslim untuk mengantarkan sepiring daging qurban, di sanalah terjadi transaksi spiritual dan sosial yang indah. Tidak ada motif agama di sana, yang ada hanyalah ketulusan untuk berbagi kebahagiaan. Di titik inilah qurban membuktikan relevansinya yang abadi; ia meruntuhkan tembok eksklusivisme dan membangun jembatan inklusivisme.
Melalui qurban, agama tidak lagi tampil kaku dan miskin daya ubah. Agama mewujud dalam aksi nyata yang menyentuh hajat hidup orang banyak. Kerukunan dirasakan langsung lewat kehangatan relasi antar-tetangga yang saling peduli.
Idul Adha seharusnya tidak lagi dipandang sebagai rutinitas tahunan. Beli hewan, sembelih, bagikan, lalu selesai.
Jika kita mampu menangkap hakikat sejati dari ibadah ini, maka setiap usainya perayaan qurban, kualitas kerukunan umat beragama di sekitar kita harusnya semakin meningkat. Sebab, kita keluar dari madrasah qurban sebagai manusia-manusia baru, manusia yang telah menyembelih egonya, memenggal prasangkanya, mengubur kedengkiannya, dan siap bergandengan tangan dengan siapa saja demi merawat Bumi Tadulako dan Indonesia yang rukun, damai, serta penuh berkah. Hanya dengan cara demikian, qurban kita benar-benar menjadi ‘mendekatkan’ tidak hanya mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, tetapi juga mendekatkan hati antarsesama makhluk ciptaan-Nya. ***
Baca juga : Kapolres Parigi Moutong Berbagi Hewan Kurban ke Ponpes dan Lapas






