HALO LaujeHALO Parigi Moutong

Tantalo’an: Warisan Budaya dari Tanah Lauje

×

Tantalo’an: Warisan Budaya dari Tanah Lauje

Sebarkan artikel ini
foto tantaloan 4k enhanced
Tantalo'an. Foto : Basrul Idrus.

Parigi Moutong, HALOSulteng Di bagian utara Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah (Sulteng) tepatnya di Dusun Maganggal, Desa Bobalo, Kecamatan Palasa, kehidupan berjalan dengan irama yang tidak selalu tergesa seperti di kota-kota besar. Di tempat ini, waktu terasa lebih tenang memberi ruang bagi tradisi untuk tetap bernapas di tengah perubahan zaman.

Di tengah arus modernisasi yang perlahan menggeser banyak kebiasaan lama, masyarakat setempat masih memegang erat sebuah warisan budaya dari tanah Lauje yang sarat makna: Tantalo’an. Bagi masyarakat adat Lauje, Tantalo’an bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah jembatan antara manusia dan alam, antara generasi masa kini dengan para leluhur yang lebih dahulu menjejakkan kaki di tanah ini.

Tradisi ini menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan hidup masyarakat pedalaman. Setiap ritual, setiap gerakan, hingga setiap benda yang digunakan memiliki makna simbolik yang diwariskan turun-temurun.

Namun Tantalo’an juga tidak sepenuhnya lepas dari tantangan zaman. Generasi muda kini semakin akrab dengan budaya luar yang serba cepat dan praktis. Sebagian dari mereka bahkan mulai kehilangan pemahaman tentang makna yang tersimpan di balik setiap tahapan ritual.

Meski begitu, Tantalo’an masih berdiri tegak di Pegunungan Kecamatan Palasa. Ia bukan sekadar peninggalan masa lalu yang tersimpan dalam cerita, tetapi identitas yang tetap hidup di tengah masyarakat. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak selalu harus menghapus akar budaya.

Lebih dari itu, Tantalo’an juga menjadi ruang yang mempertemukan seluruh lapisan masyarakat. Pada saat ritual berlangsung, tidak ada perbedaan status sosial. Tua dan muda, kaya dan miskin, duduk bersama menikmati hidangan yang sama. Mereka mendengarkan kisah-kisah lama yang diceritakan secara lisan kisah tentang alam, leluhur, dan perjalanan hidup masyarakat adat Lauje.

Di tengah dunia yang semakin individualistis, tradisi ini menghadirkan kembali makna kebersamaan yang mulai jarang ditemukan.

Malam itu, di sebuah pekarangan sederhana, keheningan tiba-tiba pecah oleh bunyi pukulan gimbal, alat musik tradisional yang menjadi pengiring utama ritual. Dua lelaki tua menabuhnya perlahan, menciptakan irama yang bergema di antara rumah-rumah kayu.

 

img 20260405 wa0006
Dua lelaki tua menabuh gimbal mengiringi Tantalo’an. Foto : Basrul Idrus.

Warga mulai berdatangan. Sebagian berasal dari desa sekitar seperti Pebounang dan Tomini, sementara yang lain adalah warga setempat. Mereka berkumpul di teras sebuah rumah sederhana berukuran sekitar dua kali lima meter. Di pintu masuk rumah itu tergantung sehelai kain putih tanda bahwa prosesi adat akan segera dimulai.

Malam Pembukaan: Molansang

Seorang tetua adat yang disapa Mantalapu, bernama Amedia, berdiri memimpin jalannya ritual. Usianya sudah senja, namun sorot matanya tetap tajam. Gerakannya tenang, penuh wibawa.

Di hadapannya terdapat sebuah wadah yang dalam bahasa Lauje disebut layang, atau piring. Di atasnya tersusun berbagai sesajian: lugus (pinang), dolo’e (sirih), tilong (kapur), kupang (koin kuno), tabao (tembakau), gapas (benang), dan tutung.

Satu per satu warga yang hadir mendekat. Setelah merapalkan mantra, Mantalapu memberikan sentuhan adat kepada mereka. Kemudian, setiap orang dikenakan kalung manik-manik yang disebut Novululi, sebuah prosesi yang dikenal sebagai Nosambena.

“Aii’a pamulangonye mongutu onu Tantalo’an,” artinya, “Ini adalah permulaan pelaksanaan Tantalo’an.” ujar Amedia pelan.

Bagi masyarakat adat Lauje, prosesi ini juga dikenal sebagai Mongulam, bentuk pengobatan tradisional yang diyakini dapat menyembuhkan berbagai penyakit serta melindungi masyarakat dari mara bahaya.

img 20260405 wa0005
Prosesi Mongulam dalam pelaksanaan Tantalo’an. Foto : Basrul Idrus.

Setelah prosesi Mongulam selesai, suasana di dalam rumah berubah menjadi lebih hidup. Belasan perempuan berdiri berhadapan, masing-masing memegang Long Ombunoib;(Daun Nibong) yang menjadi bagian penting dalam tarian adat.

Mereka bergerak perlahan maju dan mundur sambil mengayunkan tangan mengikuti irama gimbal.

img 20260405 wa0007
Belasan perempuan masyarakat adat Lauje menari-nari dengan Long Ombunoi. Tarian yang disebut Tantalo’an. Foto : Basrul Idrus.

Tarian itu disebut Tantalo’an.

Jimo bengkel sau momemempasae long Ombunoi njo’aa tinopeange Tantalo’an,” artinya “Dorang perempuan yang banyak itu seperti menari-nari dengan Long Ombunoi di tangan itulah yang dikatakan Tantalo’an,” ucap Amedia.

Begitulah malam pembukaan yang disebut Molansang dimulai, sebuah awal sakral bagi rangkaian ritual yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Malam Penutupan: Monimpas Boto Nu Pensa

Ritual Tantalo’an berlanjut pada malam kedua yang disebut Monimpas Boto Nu Pensa. Pada tahap ini, prosesi mencapai puncaknya.

Belasan perempuan bersama Mantalapu kembali menari di tengah kerumunan warga. Kali ini, mereka menebang batang pohon pisang yang digantungkan pada bambu, sambil tetap melakukan gerakan tarian Tantalo’an.

img 20260405 114650
Seorang perempuan berusia setengah abad melakukan Monimpas Boto Nu Pensa pada pergelaran Tantalo’an. Foto : Basrul Idrus.

Iringan gimbal terdengar semakin kuat. Alat musik ini terbuat dari ayu onsuu atau kayu onsuu, sementara gendangnya menggunakan kulit use (kulit kus-kus) yang direkatkan dengan lilitan bolagon (rotan) dan taring (bambu) sebagai penjepit.

Libeng pamulangonye kangkai odoluoanaonye metantanian, no silig lama’e monibas puu nu pensa” artinya “Perbedaan Tantalo’an di pembukaan dan malam kedua adalah pada prosesi menebang pohon pisang,” jelas Amedia sambil tersenyum.

Gerakan tarian kembali dilakukan berulang-ulang maju, mundur, bertukar posisi. Tarian ini dilaksanakan sebanyak tiga kali, menjadi simbol penutup dari seluruh rangkaian ritual.

Setelah itu, para perempuan yang mengikuti tarian mengambil Tandoi, makanan tradisional yang telah disiapkan. Hidangan itu terdiri dari pulut yang dibungkus Long Sinimpis (daun kunyit), Aniong Nongol Nilai Kangkai Niu (Nasi Putih Bercampur Parutan Kelapa) , serta sebutir golau (telur) rebus yang diletakkan di dalam Pongembiang Aniong atau bakul.

img 20260405 wa0008
Seorang perempuan sedang mengambil Tandoi. Foto : Basrul Idrus.

Mereka kemudian makan bersama.

Bagi masyarakat Lauje, momen itu bukan sekadar santap bersama, melainkan ungkapan rasa syukur setelah seluruh rangkaian Tantalo’an selesai dilaksanakan.

Bagi masyarakat Lauje, momen itu bukan sekadar santap bersama, melainkan ungkapan rasa syukur setelah seluruh rangkaian Tantalo’an selesai dilaksanakan.*

Bupati Parimo Dukung Pelestarian Adat dan Pembangunan Rumah Adat

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *