Parigi Moutong, HALOSulteng – Laga semifinal Liga 4 Seri Parigi Moutong 2025-2026 Zona 2 Sulawesi Tengah (Sulteng) antara Batu Raja FC Tomini dan Persikota Kotaraya berujung kontroversi setelah pertandingan dihentikan akibat insiden kekerasan dan protes keras terhadap wasit. Manajer Batu Raja FC Tomini, Atim, mendesak Komite Kompetisi Askab PSSI Parigi Moutong untuk bersikap tegas dengan mendiskualifikasi Persikota Kotaraya.
Pertandingan yang digelar di Lapangan Mitra Kotaraya, Selasa (20/1/2026), itu memanas di babak kedua. Wasit utama Fadli Labago mengeluarkan kartu merah kepada salah satu pemain Persikota Kotaraya setelah terjadi pemukulan terhadap pemain Batu Raja FC Tomini.
“Jadi sempat terjadi pelanggaran yang dilakukan pemain Persikota Kotaraya terhadap pemain Batu Raja FC Tomini. Tidak lama setelah itu, salah satu pemain Persikota Kotaraya melakukan pemukulan. Yang memukul saya berikan kartu merah, sedangkan yang dipukul kartu kuning,” ujar Fadli Labago saat dikonfirmasi, Kamis (12/2/2026).
Situasi semakin memanas ketika pelatih dan kapten tim Persikota Kotaraya masuk ke lapangan untuk memprotes keputusan wasit. Menurut Fadli, protes tersebut sudah melewati batas kewajaran.
“Sekitar satu menit kemudian saya suruh main. Tidak lama coach dan kapten tim masuk ke lapangan, tidak menerima keputusan saya. Penyampaian protes dengan bahasa yang sudah melebihi batas, bahkan kapten tim sempat ada gerakan mau pukul saya,” ungkapnya.
Wasit kemudian memberikan kartu merah kepada pelatih dan kapten tim Persikota Kotaraya. Insiden tersebut membuat pertandingan terhenti. Meski pengawas pertandingan sempat meminta laga dilanjutkan, kondisi di lapangan dinilai tidak kondusif dan waktu sudah mendekati salat Maghrib.
“Saya sempat diamankan. Ada mediasi dan pengawas meminta pertandingan dilanjutkan, tetapi waktu sudah mendekati Maghrib dan situasi tidak memungkinkan untuk diteruskan,” jelas Fadli.

Komisi Kompetisi Askab PSSI Parigi Moutong kemudian menggelar sidang pada Minggu (8/2/2026) dan memutuskan laga dilanjutkan melalui adu penalti karena waktu normal tersisa lima menit dengan skor 0-0. Keputusan tersebut tertuang dalam surat bernomor 6/Askab-PSSI-PM/II-2026 yang ditandatangani Ketua Komite Kompetisi Drs. H. Mahfuz bersama tiga anggota komite pada Rabu (11/2/2026).
Dalam poin keputusan disebutkan, laga lanjutan semifinal Zona 2 antara Batu Raja FC dan Persikota Kotaraya akan digelar melalui adu penalti di Lapangan Patriot, Desa Bambalemo, Kecamatan Parigi, Jumat (13/2/2026) pukul 08.00 WITA. Pemenang akan menghadapi Persis Mepanga pada final Zona 2 di hari yang sama pukul 14.15 WITA. Adu penalti tersebut tidak melibatkan pelatih dan pemain Persikota Kotaraya yang telah menerima kartu merah.
Menanggapi hal itu, Manajer Batu Raja FC Tomini, Atim menolak hasil sidang Komisi Kompetisi Askab PSSI Parigi Moutong yang termuat dalam keputusan tersebut. Ia bahkan telah melayangkan sanggahan resmi kepada Komisi Kompetisi pada Senin (9/2/2026).
“Dalam aturan PSSI pasal 20 ayat 1, force mayor kejadian luar biasa seperti keamanan, bencana alam dan kebijakan pemerintah. Dalam hal ini yang perlu saya pertanyakan sebab akibat yg menyebabkan force mayor itu adalah terjadinya insiden (gangguan keamanan). Kemudian yg membuat insiden sampai pertandingan tidak bisa di lanjutkan lagi perlu di beri sanksi diskualifikasi,” tegas Atim.
Ia juga mengingatkan bahwa dalam technical meeting sebelum kompetisi, seluruh manajer klub Zona 2 telah menandatangani kesepakatan untuk menjaga keamanan dan mengendalikan perilaku pemain, official, serta suporter. Bahkan disepakati bahwa tindakan kekerasan terhadap perangkat pertandingan dapat berujung diskualifikasi, merujuk pada Pasal 50 Peraturan PSSI.
“Aturan sudah jelas. Kalau ada tindakan kekerasan terhadap wasit, maka sanksinya diskualifikasi. Itu hasil kesepakatan bersama seluruh manajer Zona 2. Jadi kami meminta Komisi Kompetisi ASKAB untuk konsisten menegakkan aturan,” ujarnya.
Atim menegaskan bahwa sanksi tidak hanya berlaku bagi individu, tetapi juga harus menyentuh klub apabila terbukti melanggar regulasi.
“Kami tidak ingin ada tebang pilih. Sepak bola ini untuk memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat. Kami berharap pimpinan ASKAB mengambil keputusan yang seadil-adilnya sesuai regulasi,” pungkasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, redaksi HALOSulteng.com masih terus melakukan upaya konfirmasi kepada Komisi Kompetisi Askab PSSI Parigi Moutong.






